Dua Musim, Dua Cerita bagi Masyarakat NTT

Jumat 30-10-2026,12:00 WIB
Reporter : Dimas Satriyo Nugroho
Editor : Dimas Satriyo Nugroho

NTT,DISWAY.ID - Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), perubahan arah angin bukan sekadar fenomena alam. Angin timur dan angin barat menjadi penanda pergantian musim, memengaruhi aktivitas nelayan, petani, hingga suasana lingkungan.

 

Di Kota Kupang, misalnya, perubahan musim sering kali terasa melalui hembusan angin yang menyapu jalanan, halaman rumah, dan kawasan pesisir. Ada masa ketika udara terasa lebih kering dan matahari bersinar terik. Namun, ada pula masa ketika awan mulai berkumpul, hujan turun, dan udara terasa lebih lembap.

 

Angin Timur, Datangnya Musim Kering

 

Angin timur umumnya bertiup pada periode musim kemarau di Indonesia. Angin ini berkaitan dengan massa udara yang relatif kering dari wilayah Australia. Di NTT, pengaruhnya cukup terasa karena wilayah ini memiliki karakter iklim yang cenderung kering.

 

Pada periode ini, hujan semakin jarang turun. Rumput dan pepohonan mulai mengering, beberapa sumber air mengalami penurunan debit, sementara masyarakat harus lebih bijak menggunakan air.

 

Bagi sebagian petani, musim kemarau menjadi waktu untuk mempersiapkan lahan dan menyesuaikan pola tanam. Sementara bagi nelayan, kondisi laut dan arah angin menjadi pertimbangan penting sebelum melaut.

 

Di sisi lain, angin timur juga menghadirkan suasana khas. Langit Kupang sering terlihat cerah, matahari bersinar kuat, dan udara terasa kering. Meski demikian, pada waktu-waktu tertentu, hembusan angin yang cukup kencang juga dapat membuat udara terasa lebih sejuk.

 

Angin Barat, Pertanda Hujan Mulai Datang

Tags :
Kategori :

Terkait